Belajar ilmu baru itu ibarat menjelajah taman. Supaya bisa menguasai ilmu itu, Anda harus mengenali entitas-entitas di dalam taman tersebut: pohon, bunga, kolam, dan lain-lain. Anda mesti mengenali kelok-kelok jalanannya.
Bila ilmu yang dimaksud berupa keterampilan, keterampilan itu bisa dibayangkan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan di dalam taman. Anda mesti rajin melatih kegiatan yang Anda ingin kuasai sambil tetap mengenali taman tersebut. Dalam hal ini, keterampilan adalah kegiatan, sementara taman adalah wawasan yang diperlukan untuk menguasai keterampilan tersebut.
Apakah tujuan Anda mempelajari ilmu itu? Apapun tujuannya, itu bisa dibayangkan bahwa Anda ingin memahami entitas-entitas di dalam taman dengan tujuan ingin mengenalkan taman tersebut ke masyarakat. Saya sendiri sedang membayangkan kalau saya ingin menguasai lika-liku suatu ilmu (atau taman dalam perumpamaan kita) supaya saya bisa jadi pemandu bagi orang-orang lain yang memerlukan informasi dari ilmu itu. Kalau kembali ke dunia perumpamaan, ini bisa dibilang seperti saya ingin menjadi pemandu atau ‘tour guide’ bagi orang-orang yang ingin masuk ke taman itu. Menurut saya, visualisasi seperti ini cukup membantu sang pelajar melihat tujuan dari pembelajarannya dan tidak terjebak dalam kebosanan.
Mari lanjut memakai perumpamaan ini untuk memudahkan proses belajar. Kalau belajar itu seperti menjelajah taman, bagaimana cara kita belajar secara efektif, atau, dalam dunia perumpamaan, cara kita menjelajah dengan efektif? Menurut saya, ada dua faktor dalam efektifitas pembelajaran:
1. kecepatan kita menjelajah, yaitu kecepatan kita memahami pelajaran.
2. berapa lama kita menjelajah, yaitu berapa lama kita belajar.
Dalam belajar sebagai suatu penjelajahan ini, ada kunci yang bisa diterapkan: ‘immersion’. ‘Immersion’ atau yang saya terjemahkan sebagai penyerapan ini adalah ketika kita masuk ke dalam bidang ilmu yang kita pelajari. Kita menjadi subjek di situ dan kita dikelilingi oleh entitas-entitas informasi dan keterampilan yang kita ingin kuasai. Menurut saya, belajar dengan ‘immersion’ sangat membantu dalam memahami lebih efektif karena menjadikan obyek-obyek pelajaran lebih dekat dengan kita.
Jadi, menurut saya, supaya kita bisa mempelajari suatu ilmu dengan efektif, kita mesti ‘menjelajah’ ruang-ruang konsep di dalam ilmu itu demi bisa memahami entitas-entitas informasinya. Kita mesti menyediakan waktu untuk terserap masuk ke dalam dunia ilmu itu untuk kemudian menyerap pemahaman-pemahamannya. Dengan demikian kita bisa menjadi ‘tuan’ atas ‘taman’ ilmu itu dan bisa memandu orang-orang yang memerlukan informasi tentangnya. Selamat menjelajah!
Bila ilmu yang dimaksud berupa keterampilan, keterampilan itu bisa dibayangkan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan di dalam taman. Anda mesti rajin melatih kegiatan yang Anda ingin kuasai sambil tetap mengenali taman tersebut. Dalam hal ini, keterampilan adalah kegiatan, sementara taman adalah wawasan yang diperlukan untuk menguasai keterampilan tersebut.
Apakah tujuan Anda mempelajari ilmu itu? Apapun tujuannya, itu bisa dibayangkan bahwa Anda ingin memahami entitas-entitas di dalam taman dengan tujuan ingin mengenalkan taman tersebut ke masyarakat. Saya sendiri sedang membayangkan kalau saya ingin menguasai lika-liku suatu ilmu (atau taman dalam perumpamaan kita) supaya saya bisa jadi pemandu bagi orang-orang lain yang memerlukan informasi dari ilmu itu. Kalau kembali ke dunia perumpamaan, ini bisa dibilang seperti saya ingin menjadi pemandu atau ‘tour guide’ bagi orang-orang yang ingin masuk ke taman itu. Menurut saya, visualisasi seperti ini cukup membantu sang pelajar melihat tujuan dari pembelajarannya dan tidak terjebak dalam kebosanan.
Mari lanjut memakai perumpamaan ini untuk memudahkan proses belajar. Kalau belajar itu seperti menjelajah taman, bagaimana cara kita belajar secara efektif, atau, dalam dunia perumpamaan, cara kita menjelajah dengan efektif? Menurut saya, ada dua faktor dalam efektifitas pembelajaran:
1. kecepatan kita menjelajah, yaitu kecepatan kita memahami pelajaran.
2. berapa lama kita menjelajah, yaitu berapa lama kita belajar.
Dalam belajar sebagai suatu penjelajahan ini, ada kunci yang bisa diterapkan: ‘immersion’. ‘Immersion’ atau yang saya terjemahkan sebagai penyerapan ini adalah ketika kita masuk ke dalam bidang ilmu yang kita pelajari. Kita menjadi subjek di situ dan kita dikelilingi oleh entitas-entitas informasi dan keterampilan yang kita ingin kuasai. Menurut saya, belajar dengan ‘immersion’ sangat membantu dalam memahami lebih efektif karena menjadikan obyek-obyek pelajaran lebih dekat dengan kita.
Jadi, menurut saya, supaya kita bisa mempelajari suatu ilmu dengan efektif, kita mesti ‘menjelajah’ ruang-ruang konsep di dalam ilmu itu demi bisa memahami entitas-entitas informasinya. Kita mesti menyediakan waktu untuk terserap masuk ke dalam dunia ilmu itu untuk kemudian menyerap pemahaman-pemahamannya. Dengan demikian kita bisa menjadi ‘tuan’ atas ‘taman’ ilmu itu dan bisa memandu orang-orang yang memerlukan informasi tentangnya. Selamat menjelajah!
Comments