Tugas Fotojurnalisme

Fotojurnalisme berperan mendampingi berita. Dalam mendampingi berita, foto berfungsi dua:
1. Sebagai sumber informasi.
2. Sebagai penarik minat pembaca.
3. Sebagai aikon dari suatu isu.

Sebagai sumber informasi, foto menampilkan unsur-unsur yang memberikan wawasan pada pelihat. Wawasan ini berupa data visual netral dan emosi. Data visual menampilkan makna-makna yang netral dan obyektif, yaitu keterangan tentang ada saja yang ada dalam suatu tempat dan apa saja yang terjadi di tempat itu pada peristiwa tertentu. Data visual ini pada persepsi selanjutnya oleh pelihat bisa tetap netral, bisa pula memberikan emosi. Contohnya adalah gambaran tentang suasana di suatu tempat memberikan pula nuansa yang menonjol di tempat itu. Kemudian peristiwa luar biasa yang digambarkan suatu foto bisa menularkan emosi kepada pelihatnya.

Sebagai penarik minat, foto berita terutama berkaitan dengan emosi. Akan tetapi foto penarik ini juga harus memperhatikan data visual yang memadai, karena meskipun suatu foto itu kuat secara emosi, tetapi pelihat tidak mengerti maksudnya atau konteksnya, maka foto itu akan kurang berhasil memberikan peran foto berita yang lengkap.

Berita yang dipaparkan hanya berupa tulisan, apalagi yang panjang, akan lebih sulit dicerna daripada berita yang disertai foto yang baik. Dengan foto, pembaca akan memiliki asosiasi yang membantu ia mengingat isu yang diberitakan tersebut. Bila foto berita itu sangat bagus, maka mungkin saja foto itu lebih diingat daripada beritanya. Foto-foto yang seperti ini menjadi pintu masuk bagi ingatan untuk memasuki isu tertentu. Tentu saja, sebaiknya nilai artistik dilengkapi dengan detil-detil informatif dalam foto tersebut. Penerapan yang mirip adalah ketika foto berita dibuat untuk memberikan aspek humanis dari suatu isu yang tampaknya mengawang-awang dan tidak berdampak bagi hidup manusia. Penerapan seperti ini sering saya baca dengan istilah 'putting a human face over the issue of X'. X itu misalnya 'poverty', 'pollution', 'economic crisis'. Foto yang demikian akan membawa pembaca untuk melihat suatu peristiwa bukan sebagai suatu wawasan saja, tetapi menyelaminya sebagai suatu masalah yang harus dipikirkan, dan mungkin bisa membawa kepada pencarian dan penerapan solusinya.

Karena fotojurnalisme itu terkait dengan berita dan ia mendampingi berita, dapat disimpulkan bahwa foto berita tidak bisa lebih kuat dari beritanya. Meskipun foto itu kuat secara artistik, bila ia menceritakan sesuatu peristiwa atau tempat yang nilai beritanya rendah, maka sebagai foto berita ia kurang bernilai. Tetapi foto seperti ini mungkin tetap bernilai tinggi sebagai foto karya seni (fine art).


Seorang anak menunggu kue putu pesanannya yang sedang dibuat oleh bapak pembuat putu, Kelapa Gading, Mei 2009 (NUSA photo). Bagi saya foto ini menarik karena menunjukkan relasi antara sang anak dan bapak, yang secara semiotik masing-masing berasal dari tingkatan yang berbeda dalam hirarki sosial.

Comments