Belajar memotret portretur dari Henri Cartier-Bresson

Yang saya pelajari dari HCB adalah konsep geometri yang menjadi kunci, serta decisive moment, yang saya sebut disini sebagai momen puncak. Konsep geometri diejawantahkan dalam komposisi, yaitu peletakan obyek-obyek baik pada saat sebelum atau sesudah memotret. Momen puncak dinyatakan melalui observasi dan juga keberuntungan untuk mendapatkan momen dimana dinamisme obyek berjajar membentuk komposisi visual yang diinginkan.

Dalam konsep geometri, tata letak obyek sangat diperhatikan, termasuk ruang ketiadaan obyek (ruang kosong), di dalam pigura. Hal ini saya terapkan benar-benar, meskipun sering kali masih diterapkan pasca memotret. Terkadang saya malah berpikir mungkin saya terlalu berkutat dalam komposisi dan meninggalkan aspek lain dalam fotografi. Dalam pembentukan komposisi ini, peletakan obyek dilakukan berdasarkan bentuk dominan obyek-obyek tersebut dan “nilai perhatian” yang terkandung dalam obyek-obyek itu. Yang saya maksud “nilai perhatian” adalah signifikansi suatu obyek, apakah itu nilai estetika, nilai simbolisasi, atau nilai negatif (yang mengurangi pesan dari foto).

Pada momen puncak, jika memakai bahasa dramatis, seluruh alam semesta berada dalam posisi paralel satu sama lain yang seolah-olah membentuk suatu makna atau tujuan, yaitu menguatkan suatu pesan yang dikandung dalam foto. Jadi seolah-olah alam memang memaksudkan foto itu terbentuk dan menyampaikan pesannya. Hal ini terlihat ketika hasil foto itu dilihat. Momen puncak ini tidak hanya didapat karena kebetulan, namun juga dari perencanaan, antisipasi, keahlian prediksi, dan kesabaran.

Dalam portretur (portraiture), suatu bidang yang sebenarnya saya belum banyak minat di dalamnya, geometri komposisi dan momen puncak dapat diterapkan, meskipun mungkin agak sulit karena pemotretan portretur yang saya sering temui di sekitar saya sudah lengkap perencanaannya sehingga mungkin untuk momen puncak kurang bisa diekspresikan dengan jelas. Untuk geometri komposisi juga dapat direncanakan, khususnya untuk pemotretan model dalam ruangan. Ini berbeda dengan penerapan HCB dulu yang dilakukan di jalanan dan kecerdikan fotografer memanfaatkan lingkungan yang ada sangat menentukan.

Saya sendiri, dalam praktek memotret portretur selama ini, mungkin masih kandid, mengikuti HCB. Saya setuju dengan yang disinggung dalam film dokumenternya, bahwa pemotretan karakter manusia sebaiknya dilakukan dengan cara mengikuti dahulu kehidupan sang tokoh. Ini terkait dengan filosofi saya juga bahwa portretur itu harus jujur, menampilkan karakter yang utama dari sang tokoh (sesuai interpretasi fotografer), dan kalau pun menampilkan kebaikan atau kemuliaan karakter, ini benar-benar harus ada pada sang tokoh dan bukan topeng. Ini sebabnya ketika saya memotret karakter orang, saya masih memotret secara kandid, malah jika disuruh mengatur pose sang tokoh, saya masih sedikit gugup.



- - -
Tulisan ini dibuat sebagai esai membahasi film dokumenter The Impassioned Eye untuk Kelas Pagi Anton Ismael (sekarang saya ga aktif disitu)
1 Mei 2009
*Foto dari seri Teluk Naga (NUSA photo).

Comments